Langsung ke konten utama

About

 Halo, selamat datang di Circle Ngasuh 🌱


Perkenalkan, aku Reny. Aku adalah seorang mahasiswa Pendidikan Anak Usia Dini dan juga seorang guru di dunia PAUD. Sehari-hariku diisi dengan belajar, mengamati, mendampingi, dan tumbuh bersama anak-anak—baik di ruang kelas maupun di luar kelas. Dari sanalah aku menyadari satu hal penting: mendampingi anak tidak pernah bisa dilakukan sendirian.

Circle Ngasuh lahir dari keyakinan itu. Bahwa anak-anak bertumbuh di dalam lingkaran: orang tua, guru, keluarga, dan lingkungan. Semua saling terhubung, saling memengaruhi, dan sama-sama punya peran penting dalam proses tumbuh kembang anak.

Di blog ini, aku menulis tentang parenting dan pendidikan anak usia dini dari berbagai sudut pandang. Kadang dari teori yang aku pelajari sebagai mahasiswa, kadang dari pengalaman di kelas sebagai guru, dan kadang dari perenungan sederhana tentang keseharian bersama anak-anak. Tulisan di sini tidak selalu tentang “cara yang paling benar”, tapi tentang belajar bersama dan saling memahami.

Circle Ngasuh tidak hanya ditujukan untuk orang tua, tapi juga untuk guru, calon guru, dan siapa pun yang mencintai anak-anak. Aku percaya, mencintai anak berarti mau terus belajar—belajar memahami emosi mereka, kebutuhan mereka, dan dunia mereka yang sering kali sederhana tapi penuh makna.

Melalui Circle Ngasuh, aku berharap bisa menghadirkan ruang yang hangat dan aman. Tempat untuk berbagi cerita, pengetahuan, kegelisahan, dan harapan tentang dunia anak. Tidak menggurui, tidak menghakimi, tapi saling menguatkan dalam proses mengasuh dan mendidik.

Semoga Circle Ngasuh bisa menjadi lingkar kecil yang memberi dampak besar. Karena ketika anak-anak tumbuh dengan dukungan yang utuh, dunia pun ikut bertumbuh menjadi tempat yang lebih baik 🤍


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anak Tidak Nakal: Memahami Emosi Anak dari Perspektif Ilmiah

Sering kali kita mendengar kalimat, “Anaknya nakal banget.” Padahal, dalam banyak kasus, anak bukan sedang nakal—anak sedang kesulitan. Kesulitan mengekspresikan perasaan, kesulitan memahami apa yang ia rasakan, dan kesulitan mengendalikan emosi yang datang begitu kuat. Sayangnya, perilaku anak sering kali langsung diberi label, tanpa sempat dipahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam dirinya. Anak Tidak Nakal, Anak Sedang Kesulitan Ketika anak menangis keras, berteriak, memukul, atau tantrum, itu bukan karena ia ingin menyusahkan orang dewasa. Perilaku tersebut adalah cara anak bertahan saat emosinya terasa terlalu besar untuk ditangani. Anak belum memiliki kemampuan yang sama seperti orang dewasa untuk berkata, “Aku lelah.” “Aku kecewa.” “Aku kewalahan.” Yang mereka punya hanyalah perilaku. Dan perilaku itu sering kali adalah terjemahan dari emosi yang belum bisa mereka kelola. Cara Kerja Otak Emosi Anak Secara ilmiah, hal ini sangat masuk akal. Otak anak belum berkembang se...

Menenangkan Anak Bukan Memanjakan: Di Mana Bedanya?

 Tidak sedikit orang tua dan guru yang merasa ragu saat anak menangis atau tantrum. Ingin menenangkan, tapi takut dibilang memanjakan. Ingin mendekat, tapi khawatir anak jadi “terlalu bergantung”. Akhirnya, banyak orang dewasa memilih menahan diri—atau justru bersikap keras—karena takut salah. Padahal, menenangkan anak dan memanjakan anak adalah dua hal yang berbeda. Perbedaannya bukan pada sikap lembut atau tegas, melainkan pada tujuan dan prosesnya. Menenangkan vs Memanjakan: Apa Bedanya? Secara ilmiah, menenangkan anak adalah bagian dari proses membantu anak mengelola emosinya. Ini dikenal sebagai co-regulation, yaitu kondisi ketika orang dewasa membantu anak menenangkan diri sebelum anak mampu melakukannya sendiri. Sementara itu, memanjakan terjadi ketika orang dewasa selalu menuruti keinginan anak tanpa batas, tanpa membantu anak belajar mengelola emosi atau memahami konsekuensi. Menenangkan anak fokus pada: • emosi anak • rasa aman • proses belajar mengelola peras...